- Dalam kehidupan nyata, banyak sekali masalah yang terkait dengan data (objek) yang dikumpulkan berdasarkan kriteria tertentu. Kumpulan data (objek) inilah yang selanjutnya didefinisikan sebagai himpunan. Pada bab awal ini akan dibahas tentang definisi dan keanggotaan suatu himpunan, operasi himpunan dari beberapa jenis himpunan.
- 1.1 Definisi dan Keanggotaan Suatu Himpunan Himpunan (set) merupakan sekumpulan objek-objek yang berbeda yang dapat didefinisikan dengan jelas. Objek di dalam himpunan dinamakan unsur atau anggota himpunan. Keanggotaan suatu himpunan dinyatakan oleh notasi ’∈’.
Contoh 1 :
A = {x, y, z}
x ∈ A : x merupakan anggota himpunan A.
w ∉ A : w bukan merupakan anggota himpunan A.
- Ada beberapa cara dalam menyatakan himpunan, yaitu :
- a. Mencacahkan anggotanya (enumerasi)
Dengan cara ini, himpunan tersebut dinyatakan dengan menyebutkan semua
anggota himpunannya di dalam suatu kurung kurawal.
Contoh 2 :
- Himpunan empat bilangan ganjil pertama: A = {1, 3, 5, 7}.
- Himpunan lima bilangan prima pertama: B = {2, 3, 5, 7, 11}.
- Himpunan bilangan asli yang kurang dari 50 : C = {1, 2, ..., 50}
- Himpunan bilangan bulat ditulis sebagai {…, -2, -1, 0, 1, 2, …}.
- b. Menggunakan simbol standar (baku)
Suatu himpunan dapat dinyatakan dalam suatu simbol standar (baku) yang telah
diketahui secara umum oleh masyarakat (ilmiah).
Contoh 3 :
N = himpunan bilangan alami (natural) = { 1, 2, ... }
Z = himpunan bilangan bulat = { ..., -2, -1, 0, 1, 2, ... }
Q = himpunan bilangan rasional
R = himpunan bilangan riil
C = himpunan bilangan kompleks
Himpunan yang universal (semesta pembicaraan) dinotasikan dengan U.
Contoh 4 :
Misalkan
Sekolah Tinggi Teknologi Telkom
2
Matematika Diskrit
U = {1, 2, 3, 4, 5}
dan A = {1, 3, 5} merupakan himpunan bagian dari U
- 3. Menuliskan kriteria (syarat) keanggotaan himpunan
Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan cara menuliskan kriteria (syarat)
keanggotaan himpunan tersebut. Himpunan ini dinotasinya sebagai berikut :
{ x ⎥ syarat yang harus dipenuhi oleh x }
Contoh 5 :
(i) A adalah himpunan bilangan asli yang kecil dari 10
A = { x | x ≤ 10 dan x ∈ N } atau A = { x ∈ N | x ≤ 10 }
yang ekivalen dengan A = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10}
(ii) M = { x | x adalah mahasiswa yang mengambil kuliah matematika diskrit}
Atau
M = { x adalah mahasiswa | ia mengambil kuliah matematika diskrit}
- 4. Menggunakan Diagram Venn
Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan cara menuliskan anggotanya dalam
suatu gambar (diagram) yang dinamakan diagram venn.
Dalam kehidupan nyata, banyak sekali masalah yang terkait dengan data (objek) yang dikumpulkan berdasarkan kriteria tertentu. Kumpulan data (objek) inilah yang selanjutnya didefinisikan sebagai himpunan. Pada bab awal ini akan dibahas tentang definisi dan keanggotaan suatu himpunan, operasi himpunan dari beberapa jenis himpunan.
- 1.1 Definisi dan Keanggotaan Suatu Himpunan
Himpunan (set) merupakan sekumpulan objek-objek yang berbeda yang dapat didefinisikan dengan jelas. Objek di dalam himpunan dinamakan unsur atau anggota himpunan. Keanggotaan suatu himpunan dinyatakan oleh notasi ’∈’.
Contoh 1 :
A = {x, y, z}
x ∈ A : x merupakan anggota himpunan A.
w ∉ A : w bukan merupakan anggota himpunan A.
- Ada beberapa cara dalam menyatakan himpunan, yaitu :
- a. Mencacahkan anggotanya (enumerasi)
Dengan cara ini, himpunan tersebut dinyatakan dengan menyebutkan semua
anggota himpunannya di dalam suatu kurung kurawal.
Contoh 2 :
- Himpunan empat bilangan ganjil pertama: A = {1, 3, 5, 7}.
- Himpunan lima bilangan prima pertama: B = {2, 3, 5, 7, 11}.
- Himpunan bilangan asli yang kurang dari 50 : C = {1, 2, ..., 50}
- Himpunan bilangan bulat ditulis sebagai {…, -2, -1, 0, 1, 2, …}.
- b. Menggunakan simbol standar (baku)
Suatu himpunan dapat dinyatakan dalam suatu simbol standar (baku) yang telah
diketahui secara umum oleh masyarakat (ilmiah).
Contoh 3 :
N = himpunan bilangan alami (natural) = { 1, 2, ... }
Z = himpunan bilangan bulat = { ..., -2, -1, 0, 1, 2, ... }
Q = himpunan bilangan rasional
R = himpunan bilangan riil
C = himpunan bilangan kompleks
Himpunan yang universal (semesta pembicaraan) dinotasikan dengan U.
Contoh 4 :
Misalkan
Sekolah Tinggi Teknologi Telkom
2
Matematika Diskrit
U = {1, 2, 3, 4, 5}
dan A = {1, 3, 5} merupakan himpunan bagian dari U
- 3. Menuliskan kriteria (syarat) keanggotaan himpunan
Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan cara menuliskan kriteria (syarat)
keanggotaan himpunan tersebut. Himpunan ini dinotasinya sebagai berikut :
{ x ⎥ syarat yang harus dipenuhi oleh x }
Contoh 5 :
(i) A adalah himpunan bilangan asli yang kecil dari 10
A = { x | x ≤ 10 dan x ∈ N } atau A = { x ∈ N | x ≤ 10 }
yang ekivalen dengan A = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10}
(ii) M = { x | x adalah mahasiswa yang mengambil kuliah matematika diskrit}
Atau
M = { x adalah mahasiswa | ia mengambil kuliah matematika diskrit}
- 4. Menggunakan Diagram Venn
Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan cara menuliskan anggotanya dalam
suatu gambar (diagram) yang dinamakan diagram venn.
Dalam matematika, himpunan adalah Kumpulan benda benda (yang dibendakan ) yang dapat didefinisikan dengan jelas.Dapat didefinisikan dengan jelas maksudnya kita dapat membedakan apakah sutu benda atau obyek termasuk dalam himpunan itu atau tidak.
Walaupun hal ini merupakan ide yang sederhana, tidak salah jika himpunan merupakan salah satu konsep penting dan mendasar dalam matematika modern, dan karenanya, studi mengenai struktur kemungkinan himpunan dan teori himpunan, sangatlah berguna.
Teori himpunan, yang baru diciptakan pada akhir abad ke-19, sekarang merupakan bagian yang tersebar dalam pendidikan matematika yang mulai diperkenalkan bahkan sejak tingkat sekolah dasar. Teori himpunan dapat dianggap sebagai dasar yang membangun hampir semua aspek dari matematika dan merupakan sumber dari mana semua matematika diturunkan.
Notasi Himpunan
Biasanya, nama himpunan ditulis menggunakan huruf besar, misalnya S, A, atau B, sementara elemen himpunan ditulis menggunakan huruf kecil (a, c, z). Cara penulisan ini adalah yang umum dipakai, tetapi tidak membatasi bahwa setiap himpunan harus ditulis dengan cara seperti itu. Tabel di bawah ini menunjukkan format penulisan himpunan yang umum dipakai
Teori Peluang ( Himpunan )
Standar Kompetensi Teori Peluang terdiri dari dua (2) Kompetensi Dasar. Pada penyajian dalam buku ini, setiap Kompetensi Dasar memuat Tujuan, Uraian materi, Rangkuman dan Latihan. Kompetensi Dasar dalam Standar Kompetensi ini adalah Kaidah Pencacahan, Permutasi dan Kombinasi, dan Peluang Suatu Kejadian Standar Kompetensi ini digunakan untuk menyelesaikan masalah–masalah peluang suatu kejadian pada kehidupan sehari-hari dalam rangka untuk menunjang program keahliannya. Sebelum mempelajari kompetensi ini diharapkan anda telah menguasai standar kompetensi Sistem Bilangan Real terutama tentang perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan bilangan real. Pada setiap akhir Kompetensi dasar tercantum soal-soal latihan yang disusun dari soalsoal yang mudah sampai soal-soal yang sukar. Latihan soal ini digunakan untuk mengukur kemampuan anda terhadap kompetensi dasar ini, artinya setelah mempelajari kompetensi dasar ini secara mandiri dengan bimbingan guru sebagai fasilitator, ukur sendiri kemampuan anda dengan mengerjakan soal-soal latihan tersebut. Untuk melancarkan kemampuan anda supaya lebih baik dalam mengerjakan soal, disarankan semua soal dalam latihan ini dikerjakan baik di sekolah dengan bimbingan guru maupun di rumah. Untuk mengukur standar kompetensi lulusan tiap peserta didik, di setiap akhir kompetensi dasar, guru akan memberikan evaluasi apakah anda layak atau belum layak mempelajari standar Kompetensi berikutnya. Anda dinyatakan layak jika anda dapat mengerjakan soal 60% atau lebih soal-soal evaluasi yang akan diberikan guru.
B. KOMPETENSI DASAR
B.1. Kaidah Pencacahan, Permutasi, dan Kombinasi
a. Tujuan
Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, anda dapat:
�� Menjelaskan pengertian kaidah pencacahan, faktorial, permutasi, dan kombinasi
�� Menentukan banyaknya cara meyelesaikan masalah dengan kaidah pencacahan, permutasi, dan kombinasi
�� Menyelesaikan masalah dengan menggunakan kaidah pencacahan, permutasi, dan kombinasi
b. Uraian
Materi
Perhitungan peluang yang sering dipopulerkan dengan istilah
Probabilitas pertama kali dikenalkan oleh Blaise Pascal dan Pierre de
Fermat pada abad ke-17 melalui permainan dadu. Dari permainan dadu
inilah akhirnya berkembang permainan permainan yang lain seperti
pelemparan koin, permainan kartu bridge (remi) dan permainan lainnya.
Oleh karena itu, konsep peluang lahir melalui suatu permainan. Dalam
perkembangannya, perhitungan peluang mendapatkan perhatian yang serius
dari para ilmuwan karena mempunyai peran yang sangat penting dalam
perkembangan ilmu pengetahuan lainnya, seperti Ilmu fisika modern,
Statistika, dan lain-lain.
1). Pengertian Kaidah Pencacahan (Caunting Slots)
Kaidah
pencacahan atau Caunting Slots adalah suatu kaidah yang digunakan untuk
menentukan atau menghitung berapa banyak cara yang terjadi dari suatu
peristiwa. Kaidah pencacahan terdiri atas :
a. Pengisian tempat yang tersedia (Filling Slots),
b. Permutasi, dan
c. Kombinasi.
2). Pengisian Tempat yang Tersedia (Filling Slots)
Apabila
suatu peristiwa pertama dapat dikerjakan dengan k1 cara yang berbeda,
peristiwa kedua dapat dikerjakan dengan k2 yang berbeda dan seterusnya
sampai peristiwa ke-n, maka banyaknya cara yang berbeda dari semua
peristiwa tersebut adalah K, di mana : K = k1 x k2 x . . . x kn K sering
disebut dengan istilah banyaknya tempat yang tersedia dengan aturan
perkalian atau Kaidah perkalian. Untuk menentukan banyaknya tempat yang
tersedia selain menggunakan aturan perkalian, juga menggunakan diagram
pohon, tabel silang, dan pasangan berurutan Contoh 1 Misalkan ada dua
celana berwarna hitam dan biru serta empat baju berwarna kuning, merah,
putih, dan ungu. Ada berapa banyak pasangan warna celana dan baju yang
dapat dibentuk?
Jawab:
Dari masalah di atas dapat diselesaikan dengan kaidah pencacahan,
banyak cara yang mungkin terjadi dari peristiwa tersebut dapat
ditentukan dengan menggunakan metode berikut ini:
�� Dengan tabel silang
Dari tabel silang dan diagram pohon di atas tampak ada 8 macam pasangan warna celana dan baju yang dapat dibentuk, yaitu : (h,k,), (h,m), (h,p), (h,u), (b,k), (b,m), (b,p), dan (b,u),
�� Dengan Pasangan Terurut
Misalkan
himpunan warna celana dinyatakan dengan A = {h,b} dan himpunan warna
baju dinyatakan B = {k,m,p,u}. Himpunan pasangan terurut dari himpunan A
dan himpunan B dapat ditulis {(h,k), (h,m), (h,p), (h,u), (b,k), (b,m),
(b,p), (b,u)}. Banyak unsur dalam himpunan pasangan terurut ada 8 macam
warna.
Contoh 2
Misalkan
dari Semarang ke Bandung ada dua jalan dan dari Bandung ke Jakarta ada 3
jalan. Berapa banyak jalan yang dapat ditempuh untuk bepergian dari
Semarang ke Jakarta melalui Bandung?
Jawab:
Dari Semarang ke Bandung ada 2 jalan dan dari Bandung ke Jakarta ada 3
jalan. Jadi, seluruhnya ada 2 x 3 = 6 jalan yang dapat ditempuh.
Contoh 3
Dari
lima buah angka 0, 1, 2, 3, dan 4 hendak disusun suatu bilangan yang
terdiri atas 4 angka. Berapa banyak bilangan yang dapat disusun apabila
angka-angka itu tidak boleh berulang?
Jawab:
Angka pertama (sebagai ribuan) dapat dipilih dari 4 angka yaitu 1, 2,
3, dan 4. Misalnya terpilih angka 1. Karena angka-angka itu tidak boleh
berulang, maka angka kedua (sebagai ratusan) dapat dipilih dari 4 angka,
yaitu 0, 2, 3 dan 4. Misalnya terpilih angka 0. Angka ketiga (sebagai
puluhan) dapat dipilih dari 3 angka, yaitu 2, 3, dan 4. Misalkan yang
terpilih angka 2. Angka keempat (sebagai satuan) dapat dipilih dari 2
angka, yaitu 3, dan 4. Jadi, seluruhnya ada 4 x 4 x 3 x 2 = 96 bilangan
yang dapat disusun dengan angka-angka yang tidak boleh berulang.
Contoh 4 Dari angka-angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan 7 akan dibentuk bilangan dengan 4 angka dan tidak boleh ada angka yang diulang.
a. Berapa banyak bilangan dapat dibentuk?
b. Berapa banyak bilangan ganjil yang dapat dibentuk?
c. Berapa banyak bilangan yang nilainya kurang dari 5.000 yang dapat dibentuk?
d. Berapa banyak bilangan genap dan lebih besar dari 2.000 yang dapat dibentuk?
Jawab:
a.
Angka ribuan ada 6 angka yang mungkin, yaitu 1, 2, 3, 4, 5, dan 7.
Misalkan terpilih angka 1. Angka ratusan ada 6 angka yang mungkin, yaitu
0, 2, 3, 4, 5, dan 7. Misal terpilih angka 2. Angka puluhan ada 5 angka
yang mungkin, yaitu 0, 3, 4, 5, dan 7. Misalkan terpilih angka 3. Angka
satuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 0, 4, 5, dan 7. Jadi, banyak
bilangan yang dapat dibentuk = 6 x 6 x 5 x 4 = 720 angka.
b.
Bilangan ganjil apabila angka satuannya merupakan angka ganjil. Angka
satuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 1, 3, 5, dan 7. Misalkan terpilih
angka 1. Angka ribuan ada 5 angka yang mungkin yaitu 2, 3, 4, 5, dan 7.
Misalkan terpilih angka 2. Angka ratusan ada 5 angka yang mungkin,
yaitu 0, 3, 4, 5, dan 7. Misalkan terpilih angka 3. Angka puluhan ada 4
angka yang mungkin yaitu 0, 4, 5, dan 7. Jadi, banyak bilangan ganjil
yang dapat dibentuk = 4 x 5 x 5 x 4 = 400 angka.
c.
Bilangan yang kurang dari 5.000, maka: Angka ribuan ada 4 angka yang
mungkin, yaitu 1, 2, 3, dan 4. Misalkan terpilih angka 1. Angka ratusan
ada 6 angka yang mungkin yaitu 0, 2, 3, 4, 5, dan 7. Misal terpilih
angka 2. Angka puluhan ada 5 angka yang mungkin yaitu 0, 3, 4, 5, dan 7.
Misalkan terpilih angka 3. Angka satuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu
0, 4, 5, dan 7. Jadi, banyak bilangan dapat dibentuk = 4 x 6 x 5 x 4 =
480 angka.
d.
Bilangan genap apabila satuannya merupakan angka genap, yaitu 0, 2 atau
4. Bilangan lebih besar dari 2.000 dan angka satuannya 0, maka: Angka
ribuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 3, 4, 5, dan 7. Misalkan terpilih
angka 3. Angka ratusan ada 5 angka yang mungkin, yaitu 1, 2, 4, 5, dan
7. Misal terpilih angka 2. Angka puluhan ada 4 angka yang mungkin, yaitu
1, 4, 5, dan 7. Bilangan lebih besar dari 2.000 dan angka satuannya 2,
maka: Angka ribuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 3, 4, 5, dan 7.
Misalkan terpilih angka 3. Angka ratusan ada 5 angka yang mungkin, yaitu
0, 1, 4, 5, dan 7. Misal terpilih angka 0. Angka puluhan ada 4 angka
yang mungkin, yaitu 1, 4, 5, dan 7. Bilangan lebih besar dari 2.000 dan
angka satuannya 4, maka: Angka ribuan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 2,
3, 5, dan 7. Misal terpilih angka 3. Angka ratusan ada 5 angka yang
mungkin, yaitu 0, 1, 2, 5, dan 7. Misalkan terpilih angka 0. Angka
puluhan ada 4 angka yang mungkin, yaitu 1, 2, 5, dan 7. Jadi, banyak
bilangan genap dan lebih besar dari 2.000 yang dapat dibentuk adalah =
(4 x 5 x 4) + (4 x 5 x 4) + (4 x 5 x 4) = 240 angka. 3). Pengertian dan
Notasi Faktorial n faktorial adalah hasil kali bilangan bulat positif
dari 1 sampai dengan n. Notasi dari n faktorial dilambangkan dengan n !
(dibaca : “n faktorial”)
3). Pengertian dan Notasi Faktorial
n faktorial adalah hasil kali bilangan bulat positif dari 1 sampai dengan n.
Notasi dari n faktorial dilambangkan dengan n ! (dibaca : “n faktorial”) n ! = 1 . 2 . 3 . . . (n – 2) . (n – 1).
n
Contoh 5 Tentukanlah nilai dari 0! Jawab: Dari definisi faktorial : n !
= 1 . 2 . 3 .…. (n – 2) . (n – 1) . n . . . 1), (n – 1) ! = 1 . 2 . 3
.…. (n – 2) . (n – 1) . . . 2).
Jika persamaan 2) kita substitusikan ke persamaan 1), maka akan diperoleh: n ! = (n – 1) ! . n atau n = (n 1)! n! �� .
Jika n = 1 maka akan diperoleh kesamaan: 1 = (1 1)! 1! �� atau 1 = 0! 1! , Jadi, 0! = 1! = 1
B.2 Peluang Suatu Kejadian
a. Tujuan
Setelah mempelajari uraian kompetensi dasar ini, anda dapat:
�� Menjelaskan pengertian kejadian dan ruang sampel
�� Menghitung frekuensi harapan suatu kejadian
�� Menghitung peluang suatu kejadian
�� Menghitung peluang kejadian saling lepas
�� Menghitung peluang kejadian saling bebas
�� Menerapkan konsep peluang dalam menyelesaikan masalah program keahlian.
b. Uraian Materi
1).
Pengertian Ruang Sampel dan Kejadian Pada percobaan melempar sekeping
mata uang logam, hasil yang muncul dapat dituliskan dengan memakai
notasi himpunan. Misalkan “G” dimaksudkan munculnya gambar dan “A”
munculnya angka. Himpunan dari semua hasil di atas yang mungkin muncul
pada percobaan ditulis S = {G , A}, S disebut ruang sampel atau ruang.
Misalkan pada percobaan melempar sebuah dadu bersisi enam, himpunan dari
semua hasil yang mungkin muncul pada percobaan ditulis S = {1, 2, 3, 4,
5, 6}. S disebut ruang sampel atau ruang contoh. Jadi, ruang sampel
adalah Himpunan S dari semua kejadian atau peristiwa yang mungkin muncul
dari suatu percobaan. Ruang sampel biasanya dilambangkan dengan huruf
“S” yang disebut sebagai himpunan semesta. Anggota-anggota ruang contoh
disebut titik sampel atau titik contoh. Misalnya ruang contoh S = {G, A}
mempunyai 2 titik contoh, yaitu G dan A yang disebut sebagai
anggota-anggota dari himpunan semesta. Banyaknya anggota ruang sampel
biasanya dilambangkan dengan n(S). Setiap kali melakukan percobaan akan
diperoleh hasil kejadian atau peristiwa.
Misalnya,
kegiatan melempar sekeping uang logam akan muncul sisi gambar (G) atau
munculnya sisi angka (A). Kegiatan melempar sebuah dadu bersisi enam,
akan diperoleh hasil kejadian yang mungkin muncul salah satu dari enam
sisi mata dadu 1, 2, 3, 4, 5, atau 6. Jadi, hasil kejadian adalah
himpunan bagian dari ruang sampel. Suatu kejadian A adalah suatu
himpunan dari titik sampel atau merupakan himpunan bagian dari ruang
sampel S. Himpunan kosong atau { } dan S sendiri adalah himpunan bagian
dari S, sehingga merupakan kejadian-kejadian. �� �� disebut kejadian
yang tak mungkin (mustahil), sedangkan S disebut kejadian yang pasti.
Contoh 21 Dua uang logam dilempar bersamaan, tentukan:
a. Ruang Sampel dan banyaknya ruang sampel?
b. Titik sample?
Jawab: a. Ruang sampel diperlihatkan pada tabel di bawah ini:
Jadi, ruang sampelnya adalah S = {(A,A), (A,G), (G,A), (G,G)} dan n(S) = 4
b. Titik sampelnya ada 4, yaitu: (A,A), (A,G), (G,A), (G,G).
Contoh 22
Pada
percobaan pelemparan 3 mata uang logam sekaligus 1 kali, jika P adalah
kejadian muncul 2 angka, tentukanlah ruang sampel S, banyaknya ruang
sampel, dan himpunan kejadian P.
Jawab: S = {AAA, AAG, AGA, GAA, GAG, AGG, GGA, GGG} dan n(S) = 8
P = {AAG, AGA, GAA}
2). Pengertian Peluang Suatu Kejadian
Sebelum mengetahui definisi dari peluang suatu kejadian, sebaiknya diketahui dahulu pengertian frekuensi relatif.
Frekuensi relatif adalah perbandingan antara banyaknya hasil yang muncul dengan banyaknya percobaan yang dilakukan.
Misalnya
percobaan melempar sekeping uang logam sebanyak 12 kali. Jika muncul
“G” 7 kali dan muncul “A” 5 kali, maka frekuensi relatif (Fr) dari G =
12 7 dan frekuensi relatif (Fr) dari A = 12 5 atau dapat ditulis: Fr(G) =
12 7 dan Fr(A) = 12 5 . Dengan demikian nilai frekuensi relatif
sekeping mata uang dari G atau A akan mendekati 2 1 . Peluang munculnya G
atau A adalah 2 1 ditulis P(G) = P(A) = 2 1 . Jadi, suatu percobaan
yang mempunyai beberapa hasil, masing-masing mempunyai peluang yang
sama, dapat dirumuskan sebagai berikut : n(S) P(A) �� n(A) Keterangan:
P(A) = Peluang munculnya suatu kejadian A n(A) = Banyaknya anggota dalam
kejadian A n(S) = Banyaknya anggota dalam himpunan ruang sampel. Nilai
P(A) berkisar antara 0 sampai 1, P(A) = 1 adalah suatu kepastian dan
P(A) = 0 adalah suatu mustahil. Contoh 23 Pada pelemparan sebuah dadu,
tentukanlah peluang kejadian muncul: a. Bilangan 2? b. Bilangan prima?
Jawab: S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}, maka n(S) = 6
a. Misalkan A adalah kejadian muncul bilangan 2, maka A ={2}, dan n(A) = 1 Jadi, P(A) = n(S) n(A) = 6 1 .
b. Misalkan B adalah kejadian muncul bilangan prima, maka B = {2, 3, 5}, n(B) =3 Jadi, P(B) = n(S) n(B) = 6 3 = 2 1 .
Contoh 24 Pada pelemparan suatu uang logam dan sebuah dadu, berapakah peluang munculnya:
a. Gambar pada uang logam dan bilangan genap pada dadu?
b.
Angka pada uang logam dan bilangan komposit pada dadu Nilai P(A)
berkisar antara 0 sampai 1, P(A) = 1 adalah suatu kepastian dan P(A) = 0
adalah suatu mustahil.
Contoh 23 Pada pelemparan sebuah dadu, tentukanlah peluang kejadian muncul:
a. Bilangan 2?
b. Bilangan prima? J
awab: S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}, maka n(S) = 6
a. Misalkan A adalah kejadian muncul bilangan 2, maka A ={2}, dan n(A) = 1 Jadi, P(A) = n(S) n(A) = 6 1 .
b. Misalkan B adalah kejadian muncul bilangan prima, maka B = {2, 3, 5}, n(B) =3 Jadi, P(B) = n(S) n(B) = 6 3 = 2 1 .
Contoh 24 Pada pelemparan suatu uang logam dan sebuah dadu, berapakah peluang munculnya:
a. Gambar pada uang logam dan bilangan genap pada dadu?
b. Angka pada uang logam dan bilangan komposit pada dadu?
Dari tabel di atas:
S = {(A, 1), (A, 2), . . . , (G, 6) }, maka n(S) = 12
a.
Misalkan A kejadian muncul gambar pada uang logam dan bilangan genap
pada dadu, maka A = {(G, 2), (G, 4), (G, 6)}, dan n(A) = 3. Jadi, P(A)=
n(S) n(A) = 12 3 = 4 1 .
b.
Misalkan B kejadian muncul Angka pada uang logam dan bilangan komposit
pada dadu, maka B = {(A, 4), (A, 6)}, n(B) = 2. Jadi, P(B) = n(S) n(B) =
12 2 = 6 1 .
Contoh
25 Suatu kotak berisi 6 bola putih dan 4 bola merah. Dari kotak itu
diambil sebuah bola secara acak. Berapa peluang yang terambil itu:
a. Sebuah bola putih?
b. Sebuah bola merah?
Jawab: Bola putih dan bola merah seluruhnya ada 10 buah, jadi, n(S) = 10
a.
Bola putih ada 6, jadi, n(bola putih) = 6 jadi, peluang terambilnya
sebuah bola putih adalah: P (1 bola putih) = n(S) n(bola putih) = 10 6 =
5 3 .
b.
Bola merah ada 4, jadi, n(bola merah) = 4 jadi, peluang yang terambil
sebuah bola merah adalah : P (1 bola merah) = n(S) n(bola merah) = 10 4 =
5 2 .
Contoh
26 Di dalam sebuah kotak ada 9 bola yang diberi nomor 1 sampai 9.
Apabila 2 bola diambil secara acak (random), tentukan peluang
terambilnya:
a. Kedua bola bernomor ganjil
b. Kedua bola bernomor genap
c. Satu bola bernomor ganjil dan satu bola bernomor genap?
Jawab: Banyaknya ruang sampel: memilih 2 bola dari 9 bola adalah 9C2 = 7!.2! 9! = 2 8.9 = 36
a.
Misalkan A kejadian muncul bola bernomor ganjil, maka A memilih 2 bola
dari 5 bola yang bernomor ganjil, n(A) = 5C2 = 3!.2! 5! = 10 P(A) = n(S)
n(A) = 36 10 = 18 5
b.
Misalkan B kejadian muncul bola bernomor genap, maka B memilih 2 bola
dari 4 bola yang bernomor genap, n(B) = 4C2 = 2!.2! 4! 6 dan P(B) n(S)
n(B) = 36 6 = 6 1
c.
Misalkan C kejadian muncul 1 bola bernomor ganjil dan 1 bola bernomor
genap, n(C) = 5C1 x 4C1 = 4 x 5 = 20 P(B) = n(S) n(C) = 36 20 = 9 5
Contoh 27 Pasangan suami istri berencana memiliki 3 orang anak.
Tentukan peluang 3 anak tersebut:
a. Laki-laki semua
b. Dua laki-laki
c. Paling sedikit 1 perempuan?
Jawab:
Misalkan laki-laki dilambangkan dengan L, dan perempuan dengan P, maka:
S = {LLL, LLP, LPL, PLL, LPP, PLP, PPL, PPP}, sehingga n(S) = 8
a. Jika A = semua laki-laki, maka A = {LLL} , n(A) =1 jadi, P(A) = n(S) n(A) = 8 1
b. Jika B kejadian dua anak laki-laki, maka B = {LLP, LPL, PLL} , n(B) = 3 P(B) = n(S) n(B) = 8 3
c.
Jika C kejadian paling sedikit 1 perempuan, maka C = { LLP, LPL, PLL,
LPP, PLP, PPL, PPP} , n(C) = 7, sehingga P(C) = n(S) n(C) = 8 7
Catatan:
Pola segitiga Pascal dapat juga digunakan untuk menyelesaikan berbagai
soal peluang dimana kejadian sederhananya memiliki titik sampel 2.
Jumlah ruang sampel n(S) dari n objek yang mempunyai dua sisi apabila
ditos bersama-sama adalah 2n, atau n(S) = 2n.
Contoh 28 Sepuluh uang logam yang bersisi G dan A dilempar bersama, tentukanlah :
a. Banyaknya ruang sampel
b. Peluang munculnya 3 gambar
c. Peluang munculnya 7 angka
d. Peluang munculnya paling sedikit 8 gambar!
Jawab:
a. Jumlah n(S) dari 10 keping uang logam jika dilempar bersama = 210 = 1.024
b.
n(3 gambar) dari pola segitiga Pascal = 10C3 = 7!.3! 10! = 1.2.3 8.9.10
= 120, jadi, P(3 gambar) = n(S) n(3gambar) = 128 15 1.024 120 ��
c.
n(7 angka) dari pola segitiga Pascal = 10C7 = 7!.3! 10! = 1.2.3 8.9.10 =
120, jadi, P(7 angka) = n(S) n(7 angka) = 128 15 1.024 120 ��
d.
Paling sedikit 8 gambar( > 8 gambar), berarti yang memungkinkan: n(8
gambar) = 10C8 = 8!.2! 10! = 45, n(9 gambar) = 10C9 = 9!.1! 10! = 10,
dan n(10 gambar) = 10C10 = 10!.0! 10! =1. Sehingga n(> 8 gambar) = 45
+ 10 + 1 = 56. Jadi, P(> 8 gambar) = n(S) n( �� 8 gambar) = 128 7
1.024 56 �� . 5).
Peluang
Kejadian Majemuk Kejadian majemuk adalah kejadian yang dibentuk dengan
cara menggabungkan dua atau lebih kejadian sederhana. Dengan
memanfaatkan operasi antar himpunan, kita akan menentukan peluang
kejadian majemuk. Operasi antar himpunan tersebut adalah gabungan dua
himpunan dan irisan dua himpunan.
a).
Aturan Penjumlahan dalam Peluang Kejadian Majemuk Misalkan pada
percobaan melempar dadu bersisi enam sebanyak satu kali. Kejadian A
muncul bilangan prima, yaitu A = {2, 3, 5} dan kejadian B muncul
bilangan genap, yaitu B = {2, 4, 6}. Dalam diagram Venn, dua kejadian di
atas dapat dilukiskan sebagai berikut:
Misalkan
kejadian A muncul bilangan 1 atau 3, ditulis A ={1, 3} sedangkan
kejadian B muncul bilangan 2 atau 4, ditulis B ={2, 4}. Dalam diagram
Venn, himpunan A dan B digambarkan:Dari diagram Venn tampak bahwa A dan B adalah dua himpunan saling lepas atau saling asing, karena A �� B = Ø atau n(A �� B) = 0 Dari operasi gabungan dua himpunan yang saling lepas diperoleh: n(A U B) = n(A) + n(B) ( karena n(A �� B) = 0), P(A U B) = n(S) n( AUB ) = n(S) n( A ) �� n(B ) = n(S) n( B ) n(S) n( A ) Contoh 35 Sebuah dadu dilempar sekali. Berapa peluang munculnya bilangan < 2 atau > 5?
Jawab:
Misal A kejadian munculnya bilangan < 2 maka A = {1, 2} , P(A) = 3 1
6 2 �� dan B kejadian munculnya bilangan > 5 maka B = {5, 6}, P(B) =
3 1 6 2 �� Karena n(A �� B)= 0, maka A dan B adalah kejadian yang
saling lepas, sehingga P(A U B) = P(A) + P(B) = 3 2 3 1 3 1 ��
��
Contoh 36 Dua dadu dilempar bersama-sama, tentukan peluang munculnya:
a. Dua dadu berjumlah 6 atau berjumlah 10 b. Dua dadu berjumlah 6 atau
muncul mata dadu bernomor lima!
Jawab:



0 komentar:
Posting Komentar